PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI AGENT OF VALUE

Category: Coretan rasyd

makalah spi


PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI AGENT OF VALUE
DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM
DISUSUN OLEH : KELOMPOK 10
ABD. RASYID
IMASNIAM
SALMIATI
SITI AISYAH
LOKAL/ SEMESTER : D / 1
DOSEN PENGAMPU : H. MULYADI S.Ag M.Ag

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AULIAURRASYIDIN TEMBILAHAN
TAHUN AKADEMIK 2012/2013
A.                   
B.                  PEMBAHASAN
PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI AGENT OF VALUE

1.                   Tujuan pendidikan Islam
Pendidikan menurut Islam, atau pendidikan yang berdasarkaan Islam dan/atau sistem pendidikan yang Islami, yakni pendidikan yang dipahami dan dikembangkan serta disusun dari ajaran dan nilai-nilai yang fundamental yang terkandung dalam sumber dasarnya, yaitu Al-Qur’an dan Al-Sunnah/ Hadits.[1] Tujuan utama pendidikan agama islam ialah keberagamam peserta didik itu sendiri, bukan terutama pada pemahaman tentang agama. Dengan perkataan lain, yang diutamakan oleh pendidikan agama(islam) bukan hanya knowing (mengetahui tentang nilai-nilai agama) ataupun  doing (bisa mempraktikkan apa yang diketahui) setelah diajarkannya di sekolah, tetapi justru lebih mengutamakan being-nya (beragama akan menjalani hidup atas dasar ajaran dan nilai-nilai agama). Karena itu pendidikan agama(islam) harus lebih diorientasikan pada tataran moral action, yakni agar peserta didik tidak hanya berhenti pada tataran kompeten (competence), tetapi sampai memiliki kemauan (will), dan kebiasaan (habit) dalam mewujudkan ajaran dan nilai-nilai agama tersebut dalam kehidupan sehari-hari.[2]
Jika hanya berhenti pada tingkat competence di sekolah, maka belum tentu tingkat kompetensinya itu akan tetap bertahan diluar sekolah (didalam keluarga dan masyarakat). Hal ini disebabkan karena ajaran dan nilai-nilai agama yang telah dipraktikkan oleh peserta didik kadang-kadang bisa pudar karena terkalahkan oleh hawa nafsu atau godaan-godaan setan, baik yang berupa jin, manusia maupun budaya-budaya negative yang telah mengglobal dan berkembang disekitarnya. Karena itu, bisa jadi peserta didik pada suatu hari sudah kompeten dalam menjalani hidup sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai agama, tetapi pada saat yang lain menjadi tidak kompeten lagi.[3]

2.                   Pengertian nilai
Apa itu nilai? A Value, says Webster (1984), is “a principle, standart of quality regarded as worthwhile or desirable”, yakni nilai adalah prinsip, standar atau kualitas yang dipandang bermanfaat atau sangat diperlukan. Nilai ialah “ suatu keyakinan atau kepercayaan yang menjadi dasar bagi seseorang ataupun sekelompok orang untuk memilah tindakannya, atau menilai sesuatu yang bermakna atau tidak bermakna bagi kehidupannya.[4]

3. Kedudukan nilai pendidikan Islam tehadap nilai hidup lainnya
Agama Islam memuat nilai-nilai Ilahi (nilai-nilai hidup etik religius) yang memiliki kedudukan lebih tinggi daripada nilai-nilai hidup lainnya. Disamping itu, nilai-nilai Ilahi mempunyai konsekuensi pada nilai-nilai lainnya, dan sebaliknya nilai-nilai lainnya memerlukan konsultasi pada nilai Ilahi, sehingga hubungannya termasuk vertikal linear. Sedangkan nilai hidup insani (seperangkat ajaran nonagama Islam) mempunyai relasi[5] sederajat.[6]

Dari paradigma[7] tersebut dapat dipahami bahwa nilai Ilahi (nilai hidup etik religius) memiliki kedudukan vertikal lebih tinggi daripada nilai-nilai hidup lainnya. Disamping itu, nilai Ilahi mempunyai konsekuensi pada nilai lainnya, dan sebaliknya nilai lainnya memerlukan konsultasi pada nilai Ilahi sehingga relasi termasuk vertikal linier.[8] Sedangkan nilai hidup insani (rasional, individual, ekonomi, sosial, biofisik, politik, estetik) mempunyai relasi sederajat dan masing-masing tidak harus berkonsultasi, sehingga hubungannya termasuk horizontal lateral.[9]
Guru IPS meninjaunya dari perspektif[10] sosioligis, geografis, ekonomi dan lain-lainnya. Guru IPA meninjaunya dari perspektif ilmu kealaman (biologi, kimia, fisika). Guru PPKN meninjaunya dari perspektif kewarganegaraan. Guru bahasa meninjaunya dari perspektif bahasa, demikian seterusnya. Namun demikian, semua bidang studi atau mata pelajaran tersebut berada pada payung pendidikan agama Islam yang mengembangkan dan meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.[11]
4.                   Hubungan nilai-nilai agama dengan nilai-nilai kehidupan  lainnya
Aspek-aspek atau nilai-nilai kehidupan itu sendiri terdiri atas nilai agama, nilai individu, nilai sosial, nilai politik, nilia ekonomi, nilai rasional, nilai aestetik, nilai biofisik dan lain-lain. Dengan demikian, aspek atau nilai agama merupakan salah satu aspek atau nilai kehidupan dari aspek-aspek atau nilai-nilai kehidupan lainnya. Hubungan nilai-nilai agama dengan nilai-nilai lainnya kadang-kadang bersifat horizontal lateral atau bersifat lateral sekuensial, tetapi tidak sampai kepada vertikal linier. Relasi yang berifat horizontal lateral, mengandung arti bahwa beberapa mata pelajaran (mata kuliah) yang ada dan pandidikan agama mempunyai hubungan sederajat yang independen, dan tidak saling berkonsultasi. Relasi yang bersifat lateral sekuensi, berarti di antara masing-masing mata pelajaran (mata kuliah)tersebut mempunyai relasi sederajat yang bisa saling berkonsultasi. Sedangkan relasi vertikal linier berarti mendudukuan pendidikan agama sebagai sumber nilai atau sumber konsultasi, sementara seperangkat mata pelajaran (mata kuliah) yang lain adalah termasuk pengembangan nilai-nilai insani yang mempunyai relasi vertikal linier dengan agama.[12] Semua nilai hidup yang dididikkan oleh masing-masing guru mata pelajaran tersebut harus dikonsultasikan dengan ajaran dan nilai-nilai agama atau nilai Ilahi, sebagai nilai tertinggi yang bersumber dari Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Dengan kata lain, ia menjadi sumber atau pusat konsultasi dari mata pelajaran-mata pelajaran lainnya, karena pendidikan agama yang memuat nilai-nilai Ilahi (nilai-nilai hidup etik religius) tersebut memiliki kedudukan vertikal lebih tinggi daripada nilai-nilai hidup lainnya.[13]

5.       Nilai-nilai Islami dalam UU Nomor 20 Tahun 2003
Kajian pasal ini membicarakan tentang nilai-nilai Islami yang terdapat pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1989 dan No. 20 Tahun 2003. Ada beberapa pokok-pokok pikiran nilai-nilai Islami yang terkandung didalamnya.
a.       Pendidikan nasional adalah pelaksanaan pembangunan nasional dibidang pendidikan.
b.       Asas dan dasar pendidikan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
c.       Tujuan pendidikan nasional bertujuan berkembangnya potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berahklak mulia, sehat berilmu cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
d.       Pendidikan nasional bersifat demokratis dan humanis, yakni memberikan kesempatan kepada setiap warga Negara untuk memperoleh pendidikan. Didalam rangka penerimaan peserta didik dalam suatu pendidikan tidak membedakan jenis kelamin, agama, suku, ras, kedudukan sosial dan tingkat kemampuan ekonomi, dengan tetap mengindahkan kekhususan pendidikan yang bersangkutan.
e.       Memberi kesempatan didik bagi peserta didik yang memiliki kelainan fisik dan atau mental, serta memberi perhatian bagi peserta didik yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa.
f.        Menekankan pentingnya pendidikan keluarga merupakan suatu upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan seumur hidup.
g.       Pendidikan keagamaan merupakan satu jenis pendidikan yang khusus mengajarkan agama tertentu. Pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan dunia, pesantren…(Bab IV Pasal 30 Ayat 4).[14]
Dalam teori pendidikan paling tidak ada tiga hal yang harus ditransferkan dari si pendidik kepada si terdidik, yaitu transfer ilmu, transfer nilai dan transfer perbuatan (transfer of knowledge, transfer of value, transfer of skill) didalam proses pentransferan inilah berlangsungnya pendidikan.[15]
Disebabkan itulah proses pendidikan itu bisa berlangsung secara formal, nonformal, dan informal. Bila pendidikan itu diatur, dilaksanakan dengan peraturan yang ketat seperti lamanya belajar, materi pelajaran, waktu, tingkatan, umur, pendidik, sertifikat, dan lain sebagainya hal seperti ini dapatlah disebutkan sebagai pendidik formal. Selain itu ada juga proses pendidikan itu yang diatur sedemikian rigitnya seperti yng disebutkan terdahulu, maka hal itu dapat disebutkan sebagai pendidikan nonformal. Disamping itu ada pula jenis pendidikan yang lebih memberikan kepada proses pendidikan yang mendalam tang bersifat mempribadi antara si pendidik dan si terdidik, seperti hubungan orang tua dengan anaknya di rumah tangga. Pada saat tertentu si orang tua, tanpa disengaja dan dirancang menumbuhkan nilai-nilai (values) kepada anaknya, hal yang seperti ini digolongkan kepada pendidikan informal.[16]
Berdasarkan ungkapan diatas, dapat dimaklumi betapa luasnya ruang lingkup pendidikan, sehingga setiap perbuatan yang pada intinya pentransferan ilmu, nilai, aktivitas, dan keterampilan dapat dsebut dengan pendidikan. Karena itu dapat dipastikan pendidikan Islam itu telah berlangsung di Indonesia sejak mubaligh pertama melakukan kegiatannya dalam rangka menyampaikan keislaman baik dalam bentuk pentransferan pengetahuan, nilai, dan aktivitas maupun dalam pembentukan sikap.[17]
Ajaran Islam yang disampaikan jelas mengundang tujuan baik, mencakup tujuan keilmuan (mencerdaskan), tujuan keimanan (keyakinan), tujuan pengabdian (ibadah), dan tujuan akhlak (moral).[18]
Unsur berikutnya adalah cara atau jalan yang baik berkenaan berkenaan dengan keterkaiatannya dengan nilai. Pedagang dan mubaligh didalam menyampaikan ajaran-ajaran Islam terkait dengan menimbulkan nilai-nilai baik dari segi subjek didik. Konteks positif adalah konteks yang dapat memberi pengaruh atau efek pada aktivitas pendidikan.[19]
6.       Nilai-nilai hasil deduksi dari Al-Qur’an
Pengembangan dan penerapan ilmu pendidikan Islam Diperlukan etika profetik, yakni etika yang didasarkan atas dasar nilai-nilai Ilahiyah(qauliyah) bagi pengembangan dan penerapan ilmu.
Ada beberapa butir nilai, hasil deduksi dari Al-Qur’an, yang dapat di kembangkan untuk etika profetik pengembangan dan penerapan ilmu pendidikan Islam, yaitu :
a.       Nilai ibadah, yakni bagi pemangku ilmu pendidikan Islam, pengembangan dan penerapannya merupakan ibadah (QS Al-Dzariyat[51]:56, Ali Imran [3]:190-191).
b.       Nilai ihsan, yakni ilmu pendidikan Isslam hendaknya dikembangkan untuk berbuat baik kepada semua pihak pada setiap generasi, disebabkan karena Allah telah berbuat baik kepada semua manusia dengan aneka nikmat-Nya, dan dilarang berbuat kerusakan dalam bentuk apapun (QS-Qashash[28]:77).
c.       Nilai masa depan, yakni ilmu pendidika islam hendaknya ditujukan untuk mengantisipasi masa depan yang lebih baik, karena mendidik berarti menyiapkan generasi yang akan hidup dan menghadapi tantangan-tantangan masa depan yang jauh berbeda dari periode sebelumnya (QS Al-Hasyr[59]:18).
d.       Nilai kerahmatan, yakni Ilmu pendidikan Islam hendaknya ditujukan bagi kepentingan dan kemasalahatan seluruh umat manusia dan alam semesta(QS Al-Anbiya’[21]:107).
e.       Nilai amanah, yakni ilmu pendidikan Islam itu adalah amanah Allah bagi pemangkunya, sehingga pengembangan dan penerpannya dilakukan dengan niat, cara dan tujuan sebagaimana dikehendaki-Nya(QS Al-Azhab[33]:72).
f.        Nilai dakwah, yakni pengembangan dan penerapan ilmu pendidikan Islam merupakan wujud dialog dakwah menyampaikan kebenaran Islam(QS Fushshilat[41]:33).
g.       Nilai tabsyir, yakni pemangku ilmu pendidikan Islam senantiasa memberikan harapan baik kepada umat manusia tentang masa depan mereka, termasuk menjaga keseimbangan dan kelestarian alam(QS Al-Baqarah [2]:119).[20]



[1] Muhaimin,Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam,JakartarazzT Raja Grafindo Persada,2005,hlm.7
[2] Muhaimin, Nuansa Baru Peendidikan Islam,JakartarazzT Raja Grafindo Persada,2006,hlm.147
[3] Muhaimin, Nuansa Baru Peendidikan Islam,JakartarazzT Raja Grafindo Persada,2006,hlm.148
[4] Ibid,hlm.148
[5] Relasi:koneksi atau hubungan fungisional diantara dua gejala psikologis yang terbentuk dari usaha belajar/oleh pengalaman
[6] Ibid,hlm.183
[7] Paradigma: suatu asumsi-asumsi dasar dan asumsi-asumsi teoritis yang umum(merupakan suatu sumber nilai), sehingga merupakan suatu sumber hukum-hukum, metode, serta dalam penerapan ilmu pengetahuan sehingga sangat menentukan sifat, ciri serta karakter ilmu pengetahuan itu sendiri
[8] Vertikal linier: hubungan yang segaris dan memerlukan konsultasi dari nilai Ilahi
[9] Ibid,hlm.151  Horizontal lateral(independen):, yakni hubungan sederajat yang independen, dalam arti dapat saling berkonsultasi atau tidak
[10] Perspektif: satu segi pandangan atau kerangka referensi, darimana bagian-bagian atau unsur-unsur dari objek/ masalah dapat dilihat hingga tercapai keuntungan pemahaman yang lebih baaik
[11] Ibid,hlm.183
[12]Muhaimin, Nuansa Baru Peendidikan Islam,JakartarazzT Raja Grafindo Persada,2006 ,hlm.95-96
[13] Ibid,hlm.184-185
[14] Haidar Putra Daulay,Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia,Medan:Kencana.2007, hlm.170-171
[15] Ibid,hlm.15
[16] Ibid,hlm.15
[17] Ibid,hlm.15
[18] Ibid,hlm.16
[19] Ibid,hlm.17
[20] Muhaimin, Nuansa Baru Peendidikan Islam,JakartarazzT Raja Grafindo Persada,2006 ,hlm.35-36

Share on Facebook Share on Twitter

Comments

No comments yet. Why not make the first one!

New Comment

[Sign In]
Name:

Comment:
(You can use BBCode)

Security:
Enable Images